Lampu Neon dengan Lampu LED, Lebih Efisien yang mana ?

Konservasi/efisiensi energi bukanlah hal baru di Indonesia karena secara struktural termasuk kajian Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral, bagian Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi. Lebih lanjut, kebijakan pemerintah tertuang dalam UU No. 30 tahun 2007 tentang Energi, dan PP No.70 tahun 2009 tentang Konservasi Energi.

Dari hasil kajian Indonesia (DJLPE) dan Jepang (JICA) pada tahun 2008 juga menyimpulkan bahwa konsumsi energi di Indonesia sangat boros. Karena alasan itulah, pemerintah juga telah menggalakkan konservasi energi untuk segala sektor. Dari draft Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN) 2011, potensi konservasi energi sektor industri dan komersial sekitar 10% – 30%, sektor rumah tangga 15 % – 30%, dan terakhir sektor transportasi sekitar 15 % – 35%. Dari pengajuan draft Rencana Strategis Kementrian ESDM (RENSTRA-KESDM) 2015-2019, target penurunan emisi karbon pada tahun 2015 sebesar 14,71 juta ton dan pada tahun 2019 penurunan mencapai 28,48 juta ton.

Jumlah emisi karbon selalu meningkat seiring pertumbuhan industri dan penggunaan energi yang semakin meningkat. Untuk itu, upaya yang dilakukan pemerintah adalah diversifikasi energi dari fosil fuel ke energi terbarukan dan melakukan konvervasi energi di berbagai bidang. Untuk konservasi pada listrik penerangan, lampu LED juga telah sering digemakan penggunaannya agar mampu menghemat energi, mulai dari tingkat rumah tangga hingga tingkat industri dan komersial. Kita telah tahu bahwa lampu pijar memang lebih boros dari lampu LED, namun banyak orang bertanya tentang lampu neon, apakah masih lebih boros daripada lampu LED ?

Lampu neon (Fluorescent) yang dikenal juga sebagai Compact Fluorescent Lamp (CFL) merupakan jenis lampu yang berasal dari pelepasan gas uap bertekanan rendah. Jenis cahaya ini menggunakan arus listrik untuk merangsang uap air raksa di dalam lampu  menghasilkan sinar UV (ultraviolet) yang kemudian menyebabkan lapisan bahan fosfor di bagian dalam lampu menjadi menyala. Metode produksi cahaya ini dikenal sebagai fluoresensi dan dibuat bila bahan tertentu menyerap cahaya atau elektromagnetik untuk menghasilkan cahaya. Komponen eksternal dan bahan yang dibutuhkan lampu neon dianggap sebagai limbah berbahaya karena penggunaan uap merkuri beracun.

Lampu neon membutuhkan starter untuk menyalakan lampu. Hal ini karena atom uap merkuri perlu diionisasi untuk memulai proses fluoresensi untuk mempertahankan dan mengatur kekuatan agar tetap berjalan. Seringnya on dan off pengoperasian lampu akan mengurangi rentang hidup karena lampu ini membutuhkan waktu pemanasan.

Lampu LED memiliki tingkat kecerahan (lumen) yang lebih tinggi dari lampu neon. Selain itu, lampu LED juga bisa dikontrol dengan sangat tepat sehingga bisa digunakan untuk berbagai macam aplikasi yang memiliki kebutuhan khusus; warna dan tingkat kecerahannya pun juga dapat dengan mudah diatur selama produksinya hanya mengubah bahan semikonduktor untuk mengubah warna dan menggunakan driver untuk meningkatkan output.

Mari kita lihat perbandingan daya yang digunakan oleh lampu neon dan lampu LED sebagai berikut :

Tabel Daya dan Kecerahan Lampu Neon dan Lampu LED

Lampu Neon

Lampu LED

5 w = 235 lm

4 w =   350 lm

8 w = 430 lm

7 w =   600 lm

11 w = 620 lm

9 w =   806 lm

14 w = 810 lm

12.5 w = 1055 lm

14 w = 1400 lm

Dari tabel di atas, terlihat dengan jelas bahwa lampu LED memiliki tingkat kecerahan yang lebih tinggi sehingga banyak pihak mulai beralih menggunakan lampu LED sebagai sumber penerangan saat ini karena lebih hemat energi. Kita ketahui pula bahwa perbandingan di atas membuat lampu LED memiliki efisiensi yang sangat besar jika dibandingkan dengan lampu neon, yaitu sekitar 30% – 50%.

Walaupun lampu LED memiliki harga di pasaran yang lebih tinggi, namun harga tersebut akan dikembalikan dari waktu ke waktu dalam bentuk uang akibat biaya pemakaian energi yang rendah untuk setiap waktu menyala. Lampu LED dapat bertahan lebih lama, yaitu sekitar lebih dari 50.000 jam bahkan ada beberapa  lampu produksi tahun 1970-1980an dapat bertahan lebih dari 200.000 jam, sedangkan lampu neon hanya dapat bertahan sekitar 10.000 jam.

Pembuangan limbah lampu neon biasanya lebih diperhatikan daripada lampu LED agar kandungan merkurinya tidak mencemari lingkungan. Lampu LED akhirnya menjadi pilihan sumber pencahayaan yang tepat dalam segala bentuk pencahayaan karena tidak mengandung merkuri yang berbahaya bagi lingkungan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s