IoT Mampu menjadi Solusi Penghematan Energi di Bandara

Bandara merupakan bangunan yang sangat penting bagi sebuah kota dan negara. Manusia dan barang melakukan perjalanan udara melalui bandara. The World Bank melaporkan terdapat sebanyak 20 miliar penumpang pada tahun 2013. Dalam salah satu studi menyebutkan bahwa penggunaan energi termal dan listrik yang digunakan oleh bandara besar setara dengan penggunaan energi pada kota berpenduduk 100.000 orang.

Penggunaan energi bandara terbanyak berada di gedung terminal bandara hingga sekitar 77% dimana paling banyak digunakan untuk sistem Heating, Ventilation, dan Air Conditioning (HVAC), namun secara total penggunaan energi dalam fasilitas di bandara memakan biaya sekitar 15-20% dari biaya operasional bandara. Sebenarnya penggunaan energi berbeda-beda setiap bandara. Hal tersebut bergantung pada kondisi cuaca dan geografi bandara tersebut. Hong Kong yang memiliki iklim yang panas menggunakan lebih banyak energi untuk sistem HVAC. Sementara bandar udara di Spanyol menggunakan lebih banyak energi untuk pencahayaan. Banyak bandara mulai berpikir untuk melakukan penghematan energi dengan menyusun rencana jangka panjang.

Penerapan sistem efisiensi energi di setiap bandara pun dapat dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari penggantian lampu, sistem, hingga sumber energi. Bandara di Hong Kong melakukan pengefisiensian energi dengan mengganti 100.000 lampu menjadi LED. Hasilnya, mereka dapat menghemat sebesar 18,2 juta kWh per tahunnya untuk lampu. Selain itu, mereka juga mengintegrasikan sistem pendingin dari 2 terminal yang berbeda menjadi 1 sistem. Air yang digunakan dan waktu restorasi menjadi lebih fleksibel sehingga mereka dapat menghemat 6,1 juta kWh per tahunnya untuk sistem pendingin.

Bandara Stavanger di Norwegia menerapkan sistem energi terbarukan sebagai sumber energinya. Mereka menggunakan kayu daur ulang untuk memanaskan air untuk mensuplai sepertiga dari permintaan air panas. Panel surya juga dipasang di atas gedung parkir. Panel tersebut diletakkan dengan sudut dan arah yang sesuai untuk mendapatkan hasil yang maksimum. Mereka juga mengganti semua lampu dengan LED.

Hasilnya membuktikan bandara Hong Kong dan Stavanger tersebut mengalami penurunan konsumsi energi setiap penumpang dalam 5 tahun (2010-2015). Dengan pertambahan penumpang 18 juta penumpang atau 35% selama 5 tahun, bandara Hong Kong hanya mengalami peningkatan konsumsi energi 2 juta kWh per tahun. Hal tersebut sama dengan penurunan 25,4% konsumsi energi. Bandara Stavanger mengalami penurunan 2 juta kWh penggunaan energi per tahun atau setara dengan 12,6%.

Minneapolis/St. Paul International Airport (MSP) mulai fokus merencanakan efisiensi energi sejak tahun 1998 dengan menggunakan Capital Improvement Program (CIP) untuk pengembangannya. Dana tersebut bertambah menjadi $2 miliar per tahun dan proyek lain ditambahkan secara berkelanjutan untuk mendapatkan efisiensi lebih maksimum dari program tersebut. Proyek tersebut meliputi peningkatan sistem pendingin dan penggunaan kembali panas dari pemanas, serta untuk pembayaran dan pembangunan sistem gedung pintar.  Program ini selalu melihat teknologi baru dan standard bary untuk potensi proyek masa depan. Dalam 10 tahun pengembangan (1998-2008) diperkirakan sudah balik modal pada tahun 2012 lalu.

Penerapan sistem Internet of Things (IoT) juga dapat diterapkan di bandara untuk melakukan efisiensi energi. Uni-Eropa memiliki projek yang dinamakan CASCADE untuk mengurangi pemakaian energi di bandara. Projek tersebut membantu manajer bandara mengurangi konsumsi energi HVAC dan mengurangi emisi gas karbon dioksida hingga 20%.

Bandara Fiumicino dan Bandara Malpensa di Italia menerapkan sistem projek tersebut. Sistem ventilasi memakan 50% dari konsumsi total energi. Hal tersebut merupakan sebuah peluang untuk memotong pemakaian yang sangat besar. Udara dialirkan melalui pipa yang berjarak kilometer dan menggunakan banyak energi panas dan listrik.

Sistem bertujuan untuk mendeteksi masalah dan menghentikan sumber masalah. Sensor diletakkan di jaringan ventilasi bawah tanah. Sensor akan mendeteksi masalah-masalah yang tidak begitu disadari sehingga menyebabkan energi terbuang sia-sia. Masalah tersebut seperti pemanasan atau pendingingan tiba-tiba dan masalah mekanikal.

Sensor mengambil data dan mengirimkannya ke pusat database. Data tersebut akan diolah dan jika terdeteksi adanya masalah, sistem akan segera menghubungi tim perbaikan. Tim akan segera mendatangi lokasi terjadinya masalah dan penghamburan energi dapat segera dihentikan. Data yang dikirimkan juga akan dianalisis sehingga sistem mengetahui perilaku kerja ventilasi dan dapat mengoptimalkan kerja ventilasi.

Setelah 6 bulan sistem tersebut dijalankan, bandara dapat menghemat energi sebesar 500 MWh. Nilai tersebut setara dengan 3.500 ton gas karbon dioksida atau €70.000 dalam setahun. Selain itu, Terminal 1 Bandara Fiumocino berhasil disuguhkan dengan udara yang bersih dan segar.

Penghematan energi di bandara dapat dilakukan dengan berbagai cara. Tidak hanya dengan cara konvensional, beberapa bandara telah beralih menerapkan teknologi Internet of Things (IoT). Selain melakukan efisiensi energi, IoT juga memberikan kemudahan dan kenyamanan, tidak hanya bagi pihak pengelola bandara, namun juga bagi para penumpang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s