Daya Serap Tenaga Kerja pada Industri IoT

Industri Internet of Things (IoT) membuka banyak peluang baru. Banyak perusahaan dan startup memulai usahanya pada bidang IoT. Bagaimanakah pengaruh IoT terhadap tenaga kerja Indonesia? Apakah dengan masuknya teknologi IoT membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia?

Kehadiran teknologi IoT banyak memberikan ide dan inspirasi dalam menjawab dan menyelesaikan permasalahan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut membuka peluang bagi para pebisnis yang memiliki banyak inovasi. Disertai dengan semangat entrepreneurship yang tinggi, muncullah startupstartup baru dalam mewujudkan ide tersebut. Kemunculan startup memunculkan banyak lapangan pekerjaan baru.

Di samping itu, teknologi IoT juga memunculkan ide bagi pengusaha di bidang lain untuk mengadopsi teknologi tersebut dalam mengembangkan usahanya. Empat sektor yang diprediksi membutuhkan banyak tenaga kerja adalah e-commerce, teknologi finansial, logistik, dan big data.

Pertumbuhan teknologi IoT memerlukan tenaga kerja dalam jumlah yang signifikan. Michael Page Indonesia menyebutkan permintaan tenaga kerja pada bidang teknologi naik hingga 60%. Penggunaan internet yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari menyebabkan pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Dibutuhkan orang-orang yang berpendidikan tinggi dan memiliki keahlian dalam bidang-bidang teknik, teknologi, dan informasi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh University of Technology Sydney, tenaga kerja ahli dalam bidang application architect, IT consultant, web dan software developer, business analyst, network specialist, dan programmer dibutuhkan untuk menyokong kemajuan industri teknologi dan informasi.

Menurut Director Teaching & Learning dari Faculty of Engineering and Information Technology University of Technology Sidney, Alan Sixsmith, Indonesia masih memerlukan tenaga kerja dalam pembangunan infrastruktur digital. Profesi seperti project manager, digital marketing, mobile developer, engineer, security consultant, dan java developer dibutuhkan untuk melakukan pembangunan infrastruktur digital. Alan memprediksi profesi computer system design akan bertumbuh hingga 24,6% di Indonesia pada beberapa tahun ke depan.

Namun, dibalik semua kebutuhan tersebut, Indonesia mengalami krisis tenaga kerja pada bidang teknologi. Monroe Consulting Group mengatakan Indonesia kekurangan SDM untuk pertumbuhan ekonomi negara khususnya pada bidang teknologi. Lebih banyak tenaga kerja Indonesia yang memiliki kemampuan yang hebat tertarik bekerja di luar negeri. Di sisi lain, orang-orang yang memiliki pendidikan kurang akan terserap pada pekerjaan buruh atau pekerja pabrik dalam hal manufaktur. Pekerjaan yang banyak memerlukan tenaga kerja dan hanya melakukan pekerjaan sesuai dengan SOP.

Pekembangan teknologi yang cepat, ditambah dengan bantuan kemudahan yang berasal dari teknologi IoT, membuat perkembangan industri 4.0 pun semakin cepat. Tenaga kerja yang membutuhkan pekejaan berulang akan terpangkas. Semua tenaga kerja dalam proses manufaktur tidak lagi diperlukan. Pekerjaan tidak lagi dilakukan oleh manusia melainkan oleh robot. Pekerjaan yang dilakukan oleh automatisasi mesin akan lebih disukai karena akan lebih presisi, lebih cepat, dapat bekerja terus menerus tanpa adanya keluhan dan protes.

Industri IoT tentu menyerap tenaga kerja Indonesia. Namun, kebutuhan dan daya serap tenaga kerja tersebut bergeser. Teknologi ini menyerap tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus di bidang teknologi. Tenaga kerja kasar atau yang berpendidikan rendah akan dikalahkan oleh mesin dan automatisasi hasil pengembangan teknologi IoT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s